“Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”. (Al Imran:102)
Di salam ayat ini Allah
Ta’ala memerintahkan kepada semua orang yang beriman untuk bertakwa kepada
Allah Ta’ala semaksimal mungkin atau melaksanakan perintahnya dan menjauhi
larangannya semaksimal mungkin. Di antara perkara yang perlu kita waspadai dan
perlunya hati-hati terhadapnya adalah perkara yang ada kaitannya dengan syirik.
Mengingat banyak tradisi kita yang dipengaruhi syirik. Karena di antara makna
takwa adalah berhati-hati terhadap perbuatan syirik, ini seperti apa yang
dikatakan Ibnu abbas tentang makna orang yang bertakwa adalah :
“Yaitu orang-orang yang
selalu berhati-hati dari perbuatan syirik kepada Allah dan selalu melaksanakan
perintahnya sebagai tanda taat kepada-Nya.”
Di akhir ayat ini Allah Ta’ala
mengingatkan agar jangan seklai-kali mati kecuali dalam keadaan islam, artinya
kita tidak mungkin bisa mati dalam keadaan islam kecuali kita memahami betul
tentang makna islam. Menurut Syaik Tamimi, islam adalah:
“Islam adalah beristislam
kepada Allah dengan mentauhidkannya, tunduk kepadanya dengan penuh ketaatan dan
berlepas dari (baro’) kesyirikan dan orang-orang musyrik.”
Di antara perkara yang
termasuk tradisinya orang musyrik adalah memperingati hari kelahiran atau
natalan. Padahal natalan bukan Sunnah Rasulullah dan para sahabat tidak pernah
mencontohkan apalagi memerintahkan, tetapi anehnya banyak kaum muslimin yang
melaksanakan, seperti peringatan kelahiran Rosulullah pada bulan Rabi’ul awwal
atau peringatan hari kelahiran putra-putri kita. Padahal Allah Ta’ala dan
Rasulullah telah mengingatkan kita:
“Dan janganlah kamu
mnegikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, hati, semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra:36)
Dari ibunda kaum mu’minin ,
Ummu Abdillah ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa
mengada-adakan sesuatu (amalan) dalam urusan (agama) kami yang bukan dari kami,
maka (amalan) itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim:
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka
itu tertolak.”
Natalan merupakan kebiasaan
para penyembah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno di bawah raja
Nimrod (cucunya Ham, anak Nabi Nuh). Nimrod inilah orang pertama yang
mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia, serta kerajaan di dunia
dengan sistem kehidupan ekonomi dan dasar pemerintahan. Nimrid ini adalah
seorang pembangkang dan penentang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, yakni Nabi
Ibrahim Alaihissalam. Jumlah kejahatannya amat banyak, di anataranya dia
mengawini ibu kandungnya, Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibunya
yang merangkap istrinya menyebarkan ajaran sesat dengan menyatakan dan meyakini
bahwa roh Nimrod tetap hidup selamanya walaupun jasadnya telah mati. Lalu
peristiwa itu ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi
Nimrod. Maka untuk mengenang hari kelahiran Nimrod tanggal 25 Desember,
Semiramis menggantungkan bingkisan pada ranting pohon itu sebagai hari
kelahiran Nimrod. Inilah asal usul Pohon Natal.
Melalui pemujaan terhadap
Nimrod, akhirnya Nimrod dianggap sebagai “anak suci dari surga atau anak Dewa
Matahari”. Kepercayaan orang Babilonia yang menyembah kepada “Ibu dan Anak”
(Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali), menyebar luas dari babilonia ke berbagai
bangsa di dunia dengan cara dan bentuk yang berbeda, sesuai bahasanya.
Di Mesir dewa-dewi tersebut
bernama Isis dan Osiris yang setiap tahun mereka merayakan kelahiran anak Dewi
Isis (Dewi Langit) yang dipercaya lahir tanggal 25 Desember dan mereka rayakan
jauh sebelum Nabi Isa Alaihissalam dilahirkan. Di Asia bernama Cybele dan
Deoius. Di Roma bernama Fortuna dan Yupiter. Serta di negara lain seperti
China, Jepang, Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap Dewi Madonna, Jauh
sebelum Nabi Isa Alaihissalam dilahirkan.
Para murid Yesus dan orang
Kristen yang hidup pada abad ke I tidak pernah merayakan Natal sebagai hari
kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Dalam Alkitab/Bible tidak ditemukan satu
ayat Tuhan/Allah maupun Yesus yang memerintahkan untuk merayakan Natal. Sebab,
perayaan tanggal 25 Desember adalah perayaan agama paganis (penyembah berhala)
yang dilestarikan oleh umat kristiani.
Menurut penjelasan di dalam
Catholic Encyclopedia edisi 1911 yang berjudul
“Christmas” ditemukan kata-kata yang berbunyi sebagai berikut:
“Natal bukanlah upacara
gereja yang pertama, melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang
diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Desember ini,
kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”
Masih dalam Encyclopedia itu
juga dengan judul “Natal Day” bapak katolik pertama mengakui bahwa:
“Di dalam kitab suci, tidak
seorang pun yang mengadakan upacara atau meneyelenggarakan perayaan untuk
merayakan hari kelahiran Yesus. Hanya orang kafir saja (seperti Fir’aun dan
Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya di dunia ini.”
Natal menurut Encyclopedia Americana
Tahun 1944:
“Menurut para ahli, pada abad permulaan, Natal tidak pernah
dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat kristen hanya merayakan hari
kematian orang terkemuka saja dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang
tersebut.” Perjamuan Ci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru, hanyalah
untuk mengenang kematian Yesus Kristus. Perayaan
Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus mulai diresmikan pada abad
ke-4 Masehi. Pada abad ke-5, Gereja barat memerintahkan kepada umat kristen
untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma
yang merayakan hari kelahiran “Dewa Matahari”. Sebab, tidak seorangpun
mengetahui hari kelahiran Yesus.
Pada dasarnya pohon terang
atau pohon Natal, sama sekali tidak untuk merayakannya. Itu semua diadopsi dari
ajaran agama pagan (kafir kuno). Pohon itu biasanya dipakai pada perayaan musim
panas sebagai persembahan suci kepada dewa matahari.
Menurut Frederick J.
Hanskins dalam bukunya Answer to Question disebutkan:
“Hiasan yang dipakai pada
upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme) yang
menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan
malam Natal sekarang. Sedangkan, pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno
yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama kristen.
Tetapi sungguh mengherankan
sekali dan sekaligus memprihatinkan, ternyata sebagian besar umat kristiani
tidak mengerti dan tidak menyadari tentang sejarah perayaan Natal, padahal
dalam Bible/Alkitab sudah ada pernyataan tentang pohon Natal:
“Beginilah firman Tuhan:
“Janganlah biasakan dirimu dengan dengan tingkah langkah bangsa-bangsa.
Janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar
terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah
berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat
oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak. Orang
memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama
seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara, orang harus
mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya sebab
berhala itu tidak dapat berbuat jahat dan berbuat baik pun tidak dapat . Tidak
ada yang sama seperti engkau, Ya Tuhan! Engkau besar dan namamu besar oleh
keperkasaannya.” Yeremia 10: 2-6
Apakah natal memuliakan
Yesus?
“Maka berhati-hatilah,
supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan
dari hadapanmu dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang Tuhan mereka
dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada Illah mereka? Aku
pun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhan,
Allahmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenci-Nya,
itulah yang dilakukan mereka bagi Illah mereka. Bahkan anak-anaknya laki-laki
dan perempuan dibakar mereka dengan api bagi Illah mereka. Segala yang
kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia. Janganlah engkau
menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12: 30-32)
“Bangsa ini memuliakan aku
dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah
kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
(Markus 7:7-8)
Ayat-ayat Alkitab tersebutjelas
sekali mengatakan bahwa pohon terang adalah upacara penyembahan berhala yang
tidak bisa berbicara, tidak bisa berbuat jahat dan tidak bisa juga berbuat
baik. Tetapi kenapa masih saja disembah oleh sebagian besar umat Kristiani?
Jawabnya karena mereka tidak mengerti kandungan kitab sucinya dan hanya
ikut-ikutan apa yang dikatakan pemimpin agama mereka. Tidak mereka sadari bahwa
justru mereka bukan pengikut Yesus yang setia. Maka kita umat islam, haram
hukumnya mengadakan natalan atau mendatangi undangan natalan, karena ia
tradisinya orang musyrik. Rasul pun telah bersabda:
Tsabit bin Adh Dhahhak ia
berkata: seorang laki-laki bernadzar pada zaman Rasulullah untuk menyembelih
unta di Buwanah. Kemudian, ia datang kepada Nabi Muhammad dan berkata:
sesungguhnya saya telah bernadzar untuk menyembelih
unta di Buwanah. Kemudian, Nabi Muhammad bersabda: “Apakah padanya terdapat
berhala di antara berhala Jahiliyah yang disembah?” Mereka berkata: “Tidak”. Beliau
berkata: “Apakah padanya terdapat hari besar di antara hari-hari besar mereka?”
mereka berkata: “Tidak”. Rasulullah bersabda: “Penuhi Nadzarmu, sesungguhnya
tidak boleh memenuhi nadzar dalam bermaksiat kepada Allah, dalam perkara tidak
dimiliki anak Adam.” (Abu Daud-2881)